Tuesday, 17 March 2026

Perjalanan mencari kedamaian dan Bertemu Ibu di Surga

 

 

Perjalanan Mencari Kedamaian dan Bertemu Ibu di Surga



Ketika saya sedang berjuang mewujudkan impian, cobaan hidup datang tanpa aba-aba.
Di saat langkah terasa berat dan hati dipenuhi tanya, Allah mengambil sosok paling berharga dalam hidup saya —  Yaitu ibu saya tercinta.

Sejak kepergian beliau, dunia terasa berbeda.
Tak ada lagi suara lembut yang membangunkan saya dengan doa.
Tak ada lagi tawa hangat yang menyambut lelah sepulang kerja.
Rumah tetap berdiri, tetapi rasanya kosong.
Hanya sunyi yang setia menemani, dan rindu yang tak pernah benar-benar pergi.

Di tengah luka itu, saya mencoba berdamai dengan takdir.
Saya sadar, hidup harus terus berjalan.
Ada harapan yang masih ingin saya perjuangkan.
Ada masa depan yang harus saya jemput.

Dengan hati yang belum sepenuhnya pulih, saya mengikuti tes ASN.
Saya belajar dalam diam, berdoa dalam sujud panjang, memohon agar Allah menunjukkan jalan terbaik.
Saat mengerjakan soal, saya hanya berusaha semampu saya.
Namun ketika melihat nilai yang terasa “kurang maksimal”, pikiran saya kosong.
Harapan seperti menggantung di antara yakin dan tidak.

Sore itu, pukul 17.30 menjelang magrib, saya pulang dengan hati sendu.
Langit senja yang meredup seakan menggambarkan perasaan saya.
Langkah terasa berat, dada terasa sesak.
Saya hanya bisa berbisik dalam hati,
“Ya Allah, Engkau lebih tahu apa yang terbaik untukku.”

Hari demi hari berlalu.
Dan tanpa saya duga, keajaiban itu datang.
Berkat doa yang tak pernah putus, berkat usaha yang tak pernah benar-benar saya lepaskan, Allah mengabulkan harapan itu.
Saya dinyatakan lulus ASN.

Saat itu, air mata yang jatuh bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata syukur.
Saya percaya, doa tidak pernah sia-sia — apalagi doa yang dipanjatkan dengan membawa nama ibu di dalamnya.

Kini saya memahami, perjalanan ini bukan hanya tentang kelulusan.
Bukan hanya tentang pekerjaan atau pengakuan.
Ini adalah perjalanan mencari kedamaian.

Saya belajar bahwa kehilangan memang menyakitkan, tetapi doa menghadirkan ketenangan.
Doa mengubah sesak menjadi lapang.
Doa mengubah rapuh menjadi kuat.
Dan doa membuat saya yakin, suatu hari nanti saya akan kembali bertemu ibu — bukan dalam rindu yang menyakitkan, tetapi dalam bahagia yang abadi.

Perjalanan ini mengajarkan saya satu hal:
tiada kata seindah doa.
Tiada tempat kembali seaman sujud.

Dan setiap langkah yang saya tempuh hari ini,
adalah bagian dari ikhtiar untuk menjadi anak yang kelak pantas
bertemu ibu di surga.

Doa mengubah yang Mustahil menjadi sesuatu yang Mustajab



Alhamdulillah. Dalam hidup saya, ada satu momen yang benar-benar membuat saya merasakan betapa dahsyatnya kekuatan doa.

Saat itu, saya memohon kepada Gusti Allah agar diberi kesempatan mutasi dari tempat kerja yang sangat jauh dari rumah. Jarak yang jauh itu bukan hanya melelahkan fisik, tetapi juga menguras waktu dan tenaga bersama keluarga. Banyak rekan kerja yang meragukan, bahkan menertawakan harapan saya. Mereka berkata, “Tidak mungkin kamu bisa mutasi.” Secara logika, mungkin memang sulit. Tetapi saya memilih percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Saya pun menggantungkan seluruh harapan hanya kepada-Nya. Setiap malam saya bangun untuk shalat tahajud, memohon dengan penuh harap dan air mata. Saya juga berusaha memperbanyak sedekah dan menjaga ikhtiar sebaik mungkin. Saya tidak tahu kapan doa itu akan dikabulkan, bahkan tidak tahu bagaimana caranya. Tapi saya yakin, Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui waktu terbaik.

Dan sungguh, pertolongan itu datang dengan cara yang tak pernah saya duga.

Pada hari Jum’at yang penuh berkah, setelah selesai menunaikan shalat Jum’at, saya menerima pesan WhatsApp. Isinya sederhana, namun mengubah segalanya: surat mutasi saya telah turun. Saat membaca pesan itu, saya terdiam. Hati saya bergetar. Rasa haru, syukur, dan bahagia bercampur menjadi satu. Tanpa berpikir panjang, saya langsung sujud syukur. Air mata mengalir deras, menyadarkan saya bahwa Allah benar-benar mendengar setiap doa yang saya panjatkan.

Tidak lama kemudian, saya benar-benar resmi pindah ke tempat kerja yang lebih dekat dengan rumah.

Ini adalah kisah nyata saya. Bukti bahwa doa yang dipanjatkan dengan keyakinan, kesabaran dalam menanti, serta keikhlasan dalam berikhtiar, tidak pernah sia-sia. Allah mungkin tidak selalu mengabulkan doa secepat yang kita mau, tetapi Dia selalu mengabulkannya pada waktu yang paling tepat.