Perjalanan Mencari Kedamaian dan Bertemu Ibu di Surga
Ketika saya sedang berjuang mewujudkan impian, cobaan hidup datang tanpa aba-aba.
Di saat langkah terasa berat dan hati dipenuhi tanya, Allah mengambil sosok paling berharga dalam hidup saya — Yaitu ibu saya tercinta.
Sejak kepergian beliau, dunia terasa berbeda.
Tak ada lagi suara lembut yang membangunkan saya dengan doa.
Tak ada lagi tawa hangat yang menyambut lelah sepulang kerja.
Rumah tetap berdiri, tetapi rasanya kosong.
Hanya sunyi yang setia menemani, dan rindu yang tak pernah benar-benar pergi.
Di tengah luka itu, saya mencoba berdamai dengan takdir.
Saya sadar, hidup harus terus berjalan.
Ada harapan yang masih ingin saya perjuangkan.
Ada masa depan yang harus saya jemput.
Dengan hati yang belum sepenuhnya pulih, saya mengikuti tes ASN.
Saya belajar dalam diam, berdoa dalam sujud panjang, memohon agar Allah menunjukkan jalan terbaik.
Saat mengerjakan soal, saya hanya berusaha semampu saya.
Namun ketika melihat nilai yang terasa “kurang maksimal”, pikiran saya kosong.
Harapan seperti menggantung di antara yakin dan tidak.
Sore itu, pukul 17.30 menjelang magrib, saya pulang dengan hati sendu.
Langit senja yang meredup seakan menggambarkan perasaan saya.
Langkah terasa berat, dada terasa sesak.
Saya hanya bisa berbisik dalam hati,
“Ya Allah, Engkau lebih tahu apa yang terbaik untukku.”
Hari demi hari berlalu.
Dan tanpa saya duga, keajaiban itu datang.
Berkat doa yang tak pernah putus, berkat usaha yang tak pernah benar-benar saya lepaskan, Allah mengabulkan harapan itu.
Saya dinyatakan lulus ASN.
Saat itu, air mata yang jatuh bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata syukur.
Saya percaya, doa tidak pernah sia-sia — apalagi doa yang dipanjatkan dengan membawa nama ibu di dalamnya.
Kini saya memahami, perjalanan ini bukan hanya tentang kelulusan.
Bukan hanya tentang pekerjaan atau pengakuan.
Ini adalah perjalanan mencari kedamaian.
Saya belajar bahwa kehilangan memang menyakitkan, tetapi doa menghadirkan ketenangan.
Doa mengubah sesak menjadi lapang.
Doa mengubah rapuh menjadi kuat.
Dan doa membuat saya yakin, suatu hari nanti saya akan kembali bertemu ibu — bukan dalam rindu yang menyakitkan, tetapi dalam bahagia yang abadi.
Perjalanan ini mengajarkan saya satu hal:
tiada kata seindah doa.
Tiada tempat kembali seaman sujud.
Dan setiap langkah yang saya tempuh hari ini,
adalah bagian dari ikhtiar untuk menjadi anak yang kelak pantas
bertemu ibu di surga.



